Harapanku pada aparatur Indonesia, membangun ekosistem digital menuju cyber apparatus 2030. Mengingat rencana Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), perihal Aparatur Sipil Negeri (ASN) bisa bekerja dari rumah melalui jaringan internet, maka rencana itu perlu dipersiapkan dan didukung oleh aparatur dengan membangun ekosistem digital.

Faktanya, WFH melalui jaringan internet dapat memberdayakan co-creation antar bidang, membangun budaya dan pola pikir yang kreatif, serta mengembangkan kompetensi digital dengan memberdayakan teknologi dan Collaboration Platform yang berkembang. Pengalamanku WFH melalui jaringan internet, menjadikan keseimbangan hidup antara dunia kerja dan rumah tangga. Karena fleksibelitas kerja (WFH) dapat mengurangi stress. Apalagi ini salah satu program strategi transformasi digital.

Selain pekerjaanku di kantor tuntas, selama WFH melalui jaringan internet, produktifitasku meningkat. Misalnya, sebulan lagi tulisanku pada 18 buku antologi segera terbit di tambah satu buku solo “Revolusi Humas”. Menulis sebagai kontribusiku agar harapanku tercapai untuk aparatur Indonesia. Berkat WFH juga, kubisa ikuti event Tebar Hikmah Ramadan di kompasiana.com. Banyak tulisanku yang menjadi artikel pilihan setiap hari, sepanjang Ramadan. Persoalan finansialku bisa kuatasi dengan usaha kuliner “Dapur EyaTa” yang semua dipelajari dari internet mulai resepnya, beli bahan bakunya, desain serta pemasarannya. Bahkan agar efisien bahan bakunya, aku juga belajar menanam benih unggul sayur mayur dan buah-buahan. Karyaku juga kusosialisasikan di YouTube, Facebook dan Instagram serta blog.

Artinya, aparatur Indonesia menurut perspektifku harus melek teknologi informasi dan multi talenta agar memimpin seluruh ekosistem digital. Dari multi talenta itulah,  aparatur bisa mencuri hati dan melayani publik secara maksimal. Apalagi berdasarkan survei APJII pada tahun 2017, ada tiga besar aktivitas masyarakat di dunia maya: chatting, sebesar 89,35%, mengakses media sosial sebesar 87,13% dan mesin pencari 74,84%, sebagaimana dilansir dari cnbc.indonesia.com. Hal ini membuktikan internet paling digunakan publik untuk bersosialisasi. Maka selaku Pranata Humas Ahli Muda, melalui dunia maya kubersosialisasi untuk mensosialisasikan pembangunan ekosistem digital menuju cyber apparatus 2030.

Pegawai negeri konvensional perlu bertransformasi agar terkoneksi lalu berinteraksi melalui jaringan internet. Sehingga bisa menembus keterbatasan ruang dan waktu. Akhirnya 2030 aparatur Indonesia layak menjadi pemimpin genius dalam birokrasi di Indonesia. Cyber apparatus 2020, misalnya Panitia dan ASN hasil proses rekrutmen  yang dilakukan menggunakan internet, yang telah melakukan studi dan diskusi serta bekerja melalui video conference,  termasuk yang merintis situs aparaturmuda.id.

Proyeksiku, cyber apparatus terus berakumulasi menjadi ekosistem digital yang berintegritas, inovatif dan bersinergi pada 2030, karena Cyber apparatus menjadi tulang punggung instansi dalam mengurangi kemacetan dan polusi serta menghemat anggaran. Karena menyelesaikan kerja tanpa harus ke kantor. Terlebih lagi saat Covid-19 melanda, WFH telah membuat aparatur lebih melek teknologi.

Tahun 2030 kecerdasan buatan (Artificial Inteligence) semakin menggantikan kecerdasan manusia dalam pembelajaran, penalaran, dan persepsi. Dimana kecerdasan manusia semua dikonversi kedalam kecerdasan mesin elektronik. Berkat AI (Artificial Inteligence), tugas dapat dijalankan dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks. Tentu saja kecanggihan tersebut masih butuh cyber apparatus yang telah menguasai standard Hitam-putih.

 

1.    Standard Hitam-Putih

Standard Hitam-Putih yang sistematis dan utuh harus diatas segala kemajuan teknologi dan aparaturnya. Tanpa kepastian itu, cyber apparatus dengan kecanggihan teknologi informasinya justru mengakselerasi bencana. Banyaknya disinformasi membuat keraguan/salah paham. Inilah tantangannya. Jangan sampai cyber apparatus menyalahgunakan teknologi informasi menjadi cyber crime. Maka dengan pembinaan metode standard hitam-putih,  aparatur krusial diprogram dengan nilai-nilai bermanfaat dan atau yang berbahaya. Inilah pembinaan kecerdasan sensorik.

Transparansi modus cyber crime di media sosial berpotensi diduplikasi. Maka disinilah peran kecerdasan sensorik aparatur dalam menyaring hoax, manipulasi data secara online, dll. Maka 10 tahun mendatang, sosok yang dibutuhkan adalah cyber apparatus yang konsisten menegakkan alternatif standard hitam-putih di dunia maya. Mereka melayani pencerahan  publik melalui pembangunan ekosistem digital. Mereka mengalahkan pelayanan perusahaan rintisan (start up) yang lebih dulu merangkul publik karena inovasi ekosistem digitalnya. Situs aparaturmuda.com, menjadi bukti kebangkitan kesadaran aparatur  membangun ekosistem digital.

 

2. Aparatur Ekosistem Digital (AED)

Pranata Humas termasuk Aparatur Ekosistem Digital menjadi figur yang  memperkuat inovasi, sinergi dan integritas. Mereka bertransformasi menuju ekosistem kolaborasi teknologi informasi agar bisa survive. Dengan membentuk ekosistem digital, aparatur dapat memiliki kemampuan untuk memenuhi apa yang paling diinginkan publik. Aparatur Ekosistem Digital (AED) dapat memoderasi konflik pada ekosistem digital yang ada. Netralitas cyber apparatus inilah yang sangat berperan strategis di masa depan dalam memimpin.

Saat membangun ekosistem digital, data dari pihak pertama dan kedua merupakan kunci sukses. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data akan memiliki produktifitas yang unggul. Jadi akses data yang dikumpulkan dan diproses dalam cloud dapat memanfaatkan potensi Internet of Things (IoT). Lewat IoT tersebut produk-produk fisik/pelayanan dapat terkoneksi dengan dunia online.  Karena ekosistem digital berorientasi pada pelayanan publik, dimana publik dapat menikmati pengalaman dari berbagai sisi. Ekosistem tersebut terdiri dari beragam kontributor atau bidang yang menyediakan solusi multi-instansi yang diakses secara digital.

Internet, kekuatan analisis data mutakhir, dan kematangan kecerdasan buatan (AI) oleh cyber apparatus membuat publik mendapatkan alternatif terbaik, yang disampaikan hanya dalam hitungan milidetik. Untuk memenuhi ekspektasi publik yang cenderung terus meningkat. Tantangan aparatur Indonesia 10 tahun tahun mendatang juga pemanfaatan teknologi akan mengurangi jumlah ASN. Cyber apparatus semakin membuat aliansi dengan instansi lain untuk menciptakan jaringan layanan yang saling melengkapi.

Didukung perkembangan Smart City, kelak aparatur Indonesia semakin memperkuat kecepatan/kemudahan dalam pembangunan  ikatan emosional terhadap publik. Tentu saja konsep Smart City membutuhkan cyber apparatus.

 

 3.  Cyber Apparatus of Smart City (CASC)

Kebijakan dan atau peraturan pemerintah pada 2030 perihal Cyber apparatus of Smart City (CASC) kuyakin lebih sempurna. Karena bertujuan membimbing kabupaten/kota dalam menyusun masterplan smart city, agar memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah. Konsep kota inilah yang paling cepat dan akurat memberikan solusi kepada warganya serta mendukung pembangunan secara berkesinambungan. Jadi Apparatus of Smart City (ASC) adalah figur yang  menghubungkan, memonitor dan mengendalikan berbagai sumber daya yang ada di dalam kota. Maka kota/kabupaten hingga pedesaan perlu mempunyai Apparatus of Cyber University.

 

4.     Apparatus of  Cyber University (ACU)

Universitas yang menuju cyber university  misalnya UNTAN. Universitas ini gencar membangun ekosistem digital dengan mengadakan kontes Blog SEO UNTAN 2020. Dengan keyword “UNTAN Membangun Ekosistem Digital Menuju Cyber University”. Ini saya tulis pada link  https://verahumas.home.blog/2020/04/13/menuju-cyber-university-menurut-al-quran/. Apparatus of Cyber University juga bertugas melakukan penguatan inovasi, sinergi dan integritas.

 

 

 

8+