Penulis akan mengajak pembaca dalam menerawang bentuk ASN 10 tahun ke depan dengan angan distopia.

Bayangkan apabila 10 tahun kelak, bentuk ASN akan terbagi menjadi dua, yakni ASN Tumpul dan Tajam.  Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam merefleksikan ketumpulan serta ketajamannya itu, yaitu tumpul serta tajam dalam tindakan serta perbuatan.

Saat membaca ASN tumpul, apakah yang terlintas di benak pembaca? Di sini kita bayangkan saja, arti “tumpul” itu seperti pensil yang belum diraut, tidak rusak sepenuhnya, dan masih dapat digunakan. Hasil tulisan dari pensil tumpul sukar menggambarkan goresan tulisan yang jelas, dan membuat sang “penulis” tidak nyaman dalam menggunakannya.  Tidak hanya merugikan orang terdekat, yaitu sang pengguna pensil, juga merugikan sang pembaca yang melihat hasil dari goresan sang pensil tumpul itu. Begitulah sedikit gambaran ASN tumpul.

Sebagian orang mungkin menganggap, menjadi ASN yang tumpul adalah sebuah tujuan. “Saya mendaftar CPNS adalah agar nanti saya tidak memeras otak, lalu perut kenyang, betapa indahnya dunia itu”. Tidak jarang penulis dicibir teman semasa perkuliahan saat mereka memergoki penulis membaca Madilog karya Tan Malaka , “kamu kan mau jadi ASN, kok buku kamu seperti itu? Jelas tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanmu kelak”. Juga, pun pada saat penulis dalam masa On Job Training di salah satu instansi, saat dipergoki sedang membaca The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained terbitan DK books, terdapat seorang pegawai menanyakan kepada penulis
“hati-hati, ada teman saya yang membaca buku-buku filsafat, dia jadi tidak  kuat, alias gila. Lagi pula itu buku tidak bermanfaat di kantor kelak”. Penulis tertegun dalam artian sedang mencerna kalimat-kalimat tersebut di atas, sering kali penulis hanya  jawab dengan senyuman, atau jawab seadanya apabila sedang dalam mood yang baik. Jawaban seadanya dari penulis diakibatkan karena sang pemberi opini pun mengaku bahwa tidak pernah menyentuh satu pun buku beraroma filsafat. Penulis pun juga memahami, menghadapi seseorang yang bebal akan “tidak tahu terhadap ketidaktahuannya” membutuhkan energi dan waktu yang ekstra.

Cuplikan pengalaman penulis tersebut di atas bukanlah sebuah gambaran dari ASN tumpul pada 10 tahun mendatang seperti yang dimaksud sebelumnya, melainkan merupakan gambaran ASN tumpul pada masa kini. Cuplikan tersebut merupakan ASN tumpul pada masa kini. Tumpul di sini dalam artian tumpul dalam pikiran serta perbuatan. Tumpul dalam pikiran: bebal, yakni tidak peduli dengan ketidaktahuannya. Mereka jelas memahami atas ketidaktahuannya terhadap sesuatu, namun justru mencibir dan menutup rasa keingintahuannya dengan beropini bahwa sesuatu tersebut tidak berguna atau membahayakan. Tanpa mereka ingin mendefinisikan apa arti dari “sesuatu” itu. Tumpul dalam perasaan: mereka tidak memedulikan atas perasaan penulis pada saat melontarkan kata-kata tersebut. Kebebalan ini harus ditiadakan pada saat 10 tahun mendatang.

ASN Tumpul pada saat 10 tahun mendatang adalah ASN yang menciptakan gelembung kehidupannya sendiri. Mereka adalah ASN yang tinggi toleransi, alias tahu dalam ketidaktahuannya. Mereka tidak mencibir atau ikut campur dalam hal-hal yang di luar gelembungnya. Moto hidupnya adalah “selama tidak mengganggu hidupku, aku pun juga tidak akan mengganggu”. Jelas hal ini merupakan peningkatan dari ketumpulan yang telah dibahas sebelumnya, namun tetap saja merupakan suatu kemunduran. Bayangkan apabila seluruh ASN kelak menciptakan gelembung hidupnya sendiri-sendiri, tak acuh dengan kehidupan lain.

Untuk ASN Tajam, penulis menggambarkannya sebagai pisau yang terasah di bagian yang salah, alih-alih memotong buah dengan presisi, pisau ini justru melukai sang pemegang pisau.

ASN tajam pada saat ini adalah ASN yang suka mencibir terhadap banyak hal, seperti orang yang sedang meludah di sumurnya sendiri, ia memahami kekotoran sumur tempat dia minum, namun justru ia ludahi sumur tersebut. Cibiran tersebut bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, misal: Menyalahkan sebuah sistem kerja yang berbelit-belit, tata krama yang membosankan, serta melemparkan seluruh kesalahan kepada sang senior tanpa memberi ruang untuk berkontribusi pemikiran dalam memperbaiki. ASN tajam biasanya mengeluhkan bahwa alasan menjadi ASN adalah untuk kehidupan yang lebih tenang, nyatanya ia akan merasa bahwa ia menukar jiwanya dengan sepeser demi sepeser uang pensiunan di hari tua. Sangat terdepan dalam mengritik sistem, saat ditanya apa solusinya, dia pun berhenti dengan kata “tidak akan mungkin bisa mengubah jika jabatanku masih di sini”.  Singkatnya, ketajaman itu selalu dijadikan sebagai wujud atas kemalasannya dalam berkontribusi.

Terdapat bentuk ASN tajam yang sering ditemui oleh penulis, yaitu ASN yang kritis di tempat yang kontraproduktif. Bentuk ketajaman yang tidak penting ini dapat dicontohkan dengan menanyakan hal-hal yang tidak kontraproduktif seperti halnya “apakah menjadi ASN diperbolehkan menjadi Atheis, mengingat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS mewajibkan taat kepada pancasila”. Penulis sangat menyayangkan daya kritis seorang ASN yang tugasnya adalah sebagai pelayan masyarakat, justru mementingkan urusan kepercayaan yang jelas-jelas tidak memiliki dasar ukuran atau indikator konkret. Siapakah yang berhak menentukan theis dan atheis nya seseorang? Bukankah lebih baik mengkritisi di PP yang sama (PP 53 Tahun 2010) tentang kewajiban di butir 10, yakni “PNS wajib melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materil”  bagaimana apabila, seorang bawahan tersebut melihat atasannya merugikan negara? Kepada siapa dia bisa melaporkan?

ASN tajam dalam 10 tahun ke depan adalah ASN yang sangat memahami terhadap eksistensi ASN yang tidak berumur panjang. Dengan pemangku profesi dengan jenis pekerjaan clerical/monoton/mudah sekali tergantikan oleh mesin, ASN ini takut, terhadap Artificial Intellegent yang akan menggantikannya. Sehingga ASN tajam menggunakan ketajamannya untuk merobek belenggu ketakutan yang ada dengan menghambat datangnya zaman otomasi, dengan cara membuntu jalannya pergerakan/semakin membelitkan rantai birokrasi, agar mereka tetap tidak tergantikan. ASN tajam ini takut menjadi ASN tumpul, yang kontribusinya kecil dan rentan digantikan. Hingga mereka terbirit-birit menyelamatkan diri, lupa sebetulnya dia hanyalah budak/roda dari lajunya sebuah pemerintahan negara.

Silakan pembaca pilih, bentuk ASN mana yang disuka, atau bila benci seluruhnya, sangat dipersilakan untuk menciptakan bentuk ASN yang beda dengan contoh seluruh cuplikan di atas.

20+