Inilah catatan dariku, seorang babu rakyat.

Jelek sekali judulnya ya? Hehe. Sebetulnya tidak jelek, hanya kita sendirilah yang membuatnya jelek, karena sering membacanya dalam makna peyorasi. Iya, peyorasi, yang berarti perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak, tidak baik, dan sebagainya.

Tidak dapat dipungkiri, terkadang kita sering memandang profesi babu dengan sebelah mata dan berakhir pada penilaian bahwa itu merupakan profesi rendahan, yang tidak pernah diinginkan kebanyakan orang. Memang sih, pernahkah kita dengar hasil survey yang dilakukan orang tentang profesi apakah yang paling diincar oleh kebanyakan orang? Sudah dapat dipastikan dan sangat mustahil ditemukan jawabannya adalah babu.

Kalau dalam pengertian yang ada di KBBI, salah satu arti dari babu adalah pembantu rumah tangga. Iya, pembantu, yang pekerjaan utamanya melayani kepala dan seluruh anggota keluarga. Terus apa hubungannya babu dengan aparatur? Secara profesi tidak ada, tetapi secara filosofi kita bisa lihat persamaannya.

Seperti diutarakan sebelumnya, babu bekerja melayani kepala keluarga yang mengupahinya. Ketika ditarik ke dunia aparatur, bisa diibaratkan dengan aparatur (sang babu) yang bekerja melayani rakyat (kepala keluarga) yang juga telah mengupahinya. Ya, di samping kita telah ketahui bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negara ini, pada kenyataannya upah para aparatur juga berasal dari dompet rakyat, dimana mereka telah berjerih lelah bekerja mencarinya. Dompet itu tenar kita kenal dengan pajak yang dipungut dari rakyat.

Babu yang sejati adalah babu yang memiliki hati yang melayani. Mengapa dikatakan demikian? Karena ketika pekerjaan melayani tidak dilakukan dengan hati, maka akan berakhir kepada kesimpulan bahwa melayani adalah pekerjaan yang melelahkan. Ya, sangat melelahkan, karena melayani itu meletakkan diri pada posisi yang lebih rendah di hadapan rakyat yang duduk di posisi yang lebih tinggi. Sementara, ketika ada hati dalam melayani, akan timbul perasaan suka dan kepuasan tersendiri yang tercapai di akhir pelayanan kita. Ya, kepuasan itu muncul karena melihat rakyat merasa puas dengan hasil pekerjaan babunya, yang secara sederhana dapat dinilai dengan peningkatan kepatuhan rakyat dalam membayar pajak. Iya, rakyat manasih yang tidak ingin berkontribusi kepada pemerintah, ketika melihat kinerja para babu yang telah mengutamakan kepentingan mereka dalam setiap pelayanan publik yang dilakukan dengan sepenuh hati? Sepertinya logika ini sangat bisa diterima oleh khalayak umum.

Lebih lanjut, kira-kira pelayanan seperti apakah yang dicintai para rakyat? Setidaknya penulis utarakan ada tiga kriteria pelayanan yang disukai rakyat, meskipun sebenarnya masih ada banyak lagi kriteria yang bisa dirumuskan. Berikut ulasannya:

1.    Keramahan

Keramahan adalah salah satu identitas masyarakat Indonesia. Keramahan tersebut paling gampang terlihat dari adanya keringanan mulut dalam mengucap sapaan dan kemudahan bibir dalam memberi senyuman. Konsep keramahan terkini yang paling tenar dan sering digaungkan di hampir seluruh kantor para babu, biasa kita dengar dengan istilah budaya 3S, Senyum, Sapa, dan Salam.

a.     Senyum adalah sebuah bentuk lekukan bibir yang melebar, yang sangat disukai oleh orang-orang, karena ampuh menghangatkan suasana dan menciptakan mood yang positif. Mother Theresa, seorang biarawati Katolik dari India pernah mengatakan dalam salah satu quote-nya yang populer itu, “Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love”. Kurang lebih artinya, ”Mari kita bertemu satu sama lain dengan senyuman, karena senyuman adalah permulaan dari kasih”. Siapa sih orang yang tidak ingin dikasihi? Sepertinya tidak ada, karena semua orang rata-rata secara alamiah haus akan kasih sayang, hehe. Dalam dunia aparatur, rakyat yang dilayani pun pasti senang ketika babunya tersenyum dalam melayani mereka.

b.    Sapa adalah sebuah bentuk penghargaan akan eksistensi orang. Ketika kita menyapa orang, atau ketika orang lain menyapa kita, kita merasa bahwa kita bukan orang yang jauh tetapi memiliki kedekatan hubungan dalam kehadiran kita di sekitar mereka. Tegur sapa yang sederhana bisa dilakukan para babu kepada rakyatnya, setidaknya dengan kalimat, “Bagaimana Pak, Bu, kabarnya? Ada yang bisa dibantu?”. Pastinya rakyat akan senang dengan keramahan melalui sapaan ini.

c.       Salam.

Bentuk nyata dari salam dalam agama di Indonesia meliputi Assalamualaikum Wr.Wb, Salam Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, dan Salam Kebajikan. Selain itu, bila dilihat dari segi waktu, secara umum terdiri dari selamat pagi, selamat siang, dan selamat malam. Salam ini sudah terbukti manjur untuk memulai situasi yang kondusif dalam setiap pembicaraan. Lebih lagi, melalui pemberian salam, sang babu telah beruntung mendapatkan dua manfaat, yaitu telah menjalankan perintah agama sekaligus menyukakan hati para rakyat, tuannya.

2.       Tepat Waktu

Tepat waktu adalah anak dari kecepatan. Tidak ada tepat waktu yang dapat dicapai dengan keterlambatan. Kepala negara kita, dalam suatu pertemuan dengan masyarakatnya, pernah mencontohkan bagaimana kecepatan dalam pelayanan dengan sederhana. Dalam kunjungannya ke daerah, Beliau sering mengadakan sesi bincang khusus dengan salah satu rakyatnya di depan mimbar. Perbincangan itu kira-kira kurang lebih lima belas menit lamanya, tebakan penulis. Di akhir perbincangan, selain sang rakyat mendapatkan sepeda seperti biasanya, ada momen dimana dia diberi cinderamata oleh Beliau berupa foto dia bersama Beliau. Foto ini diambil ketika momen perbincangan dan dicetak serta dibingkai dalam sebuah album. Sangat cepat bukan? Dalam sekitar lima belas menit, baru bertemu, difoto, fotonya langsung tercetak, di album lagi. Dari sini, Beliau menjelaskan bahwa kecepatan dalam pelayanan dapat dicapai dengan pemanfaatan teknologi informasi.

Iya, teknologi informasi adalah pilar utama yang mendukung kecepatan pelayanan, karena telah ampuh memangkas banyak waktu yang selama ini sering terbuang karena proses manual.

3.       Tidak Ada Pungli

Pelayanan yang secara ketentuan peraturan perundang-undangan tertulis gratis atau tanpa biaya, sangat tidak boleh disertakan pungutan liar (pungli) dalam pelaksanaannya. Memang sering terdengar di telinga kita, citra baik para babu tercoreng dengan pungli ini. Syukurnya, hal ini telah diminimalisir dengan dibangunnya Whistleblowing System, sebuah aplikasi yang mengakomodiir aduan masyarakat terkait pelanggaran dalam tubuh para babu, termasuk pungli di dalamnya. Selain itu, dari kita sendirilah juga yang harus memulai untuk membudayakan kebiasaan tanpa pungli dalam setiap pelayanan publik yang kita kerjakan.

Jadi, bagaimana untuk harapan aparatur sepuluh tahun ke depan? Tetaplah berpegang pada hakikatnya, bahwa sekali melayani tetap melayani, sekali babu tetaplah babu.

Jakarta,

2 Juni 2020.

750+