Hari ini di kantor saya ada pelantikan pejabat secara jarak jauh. Tentu saja merupakan hal baru yang mau tidak mau harus terjadi dalam kondisi pandemi COVID-19. Saya melihat daftar pejabat yang dilantik, terutama para Eselon III di UPT Daerah, kemudian mengecek kontak di ponsel. Seketika saya berdecak kagum pada pencapaian mereka. Bukan apa-apa, sebagian bapak dan ibu itu saya kenal ketika masih staf biasa atau baru diangkat sebagai pejabat Eselon IV. Dan sekarang, mereka ada di satu tingkatan yang lebih tinggi dalam hierarki birokrasi. Tingkat lebih tinggi berarti wewenang lebih besar dan tunjangan kinerja sedikit lebih baik, namun tentu disertai dengan tugas dan tanggung jawab yang tidak kalah beratnya.

Regenerasi tentu saja merupakan hal yang biasa dalam organisasi. Yang agak luar biasa adalah dinamika yang terjadi. Siapa yang pernah membayangkan bahwa dari bulan Maret sampai awal Juni, banyak kantor-kantor pemerintahan sepi namun geliatnya tetap terasa dari rumah-rumah para aparatur? Pembahasan soal fleksbilitas kerja maupun kerja berbasis output masih terus digeber. Eh, pandemi justru memaksa semuanya terjadi dengan lebih cepat.

Berbicara aparatur, tentu tidak bisa dilepaskan dari administrasi publik sebagai rumah besarnya. Denhardt and Denhardt (2000) memaparkan tiga gelombang perubahan paradigma kebijakan publik di dunia. Mulai dari Old Public Administration menuju New Public Management lantas bergerak ke arah New Public Service. Jika dilihat muatan dari tiap-tiap perubahan, tampak jelas bahwa penggerak utamanya adalah aparatur.

Adaptasi teknologi, misalnya, kalau aparaturnya tenang-tenang saja, maka akan cukup puas pada sekadar otomatisasi penggajian yang notabene merupakan bagian dari Old Public Administration. Posisi sekarang, ada begitu banyak aplikasi yang berkembang di pemerintah—bahkan pada suatu diskusi di perkuliahan beberapa rekan menyebutnya sebagai kebanyakan—yang masing-masing ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Implementasi semacam itu oleh banyak pakar disebut sebagai Government 1.0.

Seiring dengan kebutuhan pada New Public Service, arahnya adalah pengembangan Government 2.0 yang membutuhkan lebih banyak kolaborasi antara aparatur di birokrasi dengan masyarakat melalui berbagai medium, termasuk media sosial. Dan sudah pasti, hal-hal semacam ini akan melibatkan para aparatur muda secara aktif.

Bicara soal aparatur muda, saya sering curi dengar percakapan di KRL. Biasanya, konteks waktunya adalah di atas pukul 8 malam. Orang-orang yang naik KRL jam segitu, sudah pasti habis overtime atau RDK dan sudah pasti jauh lebih lelah dibandingkan orang-orang yang pulangnya jam 16.30 tepat. Lelah itu biasanya sumber curhat, kan? Tidak sekali dua kali saya curi dengar kisah anak-anak muda dari berbagai instansi pusat—ya karena saya naik KRL itu tadi—perihal kesulitan-kesulitan yang dialami. Ketika mendengar itu, kok rasanya ingin memberikan puk-puk, tapi kok nggak kenal. Ingin nyamber, tapi kok dikira sok tua. Jadi ya diam saja tampaknya lebih baik.

Pada intinya, ada idealisme yang dimiliki oleh para anak muda yang terbilang baru menjadi aparatur. Idealisme itu seringkali terbentur dengan struktur birokrasi yang pada dasarnya memang sudah rigid sejak era Old Public Administration. Idealisme itu umumnya membuat inovasi dan kegagalan menawarkan ide pada akhirnya menciptakan kekecewaan. Ya, sesungguhnya itu adalah hal yang wajar. Sambat sesekali di KRL ya nggak apa-apalah sebagai katarsis. Yang penting pola pikirnya tetap bisa dipertahankan.

Lantas bagaimana aparatur muda dengan semangat yang meledak-ledak bisa berkontribusi? Yah, sebagai aparatur yang mungkin sudah tidak muda lagi, saya coba menguraikannya dalam perspektif administrasi publik saja ya~

Pertama-tama, tentu yang harus diutamakan adalah pencapaian kinerja. Di balik ide-ide yang menggelegak sampai mau tumpah, ada baiknya yang di depan mata dikerjakan terlebih dahulu. Kalau kinerja bagus, maka seorang aparatur pasti akan mendapat trust mulai dari senior hingga para pimpinan dan itu adalah modal untuk masuk lebih jauh dalam memberikan kontribusi.

Saya nulis begini apa berarti kinerja saya bagus banget? Ya, nggak juga. Namanya staf biasa pasti masih banyak bolong dan luputnya. Akan tetapi, minimal iktikad baiknya terlihat dulu. Perkara hasil, itu adalah hal yang akan berkembang pada setiap penugasan.

Perubahan paradigma administrasi publik adalah keniscayaan dan untuk itu dibutuhkan aparatur yang agile untuk menghadapi perubahan tersebut. Mergel, Ganapati, and Whitford (2020) menyebut bahwa agile ke depannya akan menjadi pendekatan baru dalam tata kelola administrasi publik secara umum. Bagaimanapun, suatu sistem tidak bisa agile kalau orang-orang di dalamnya tidak agile pula.

Problematika sekarang adalah sebenarnya banyak orang-orang yang berpotensi untuk agile. Hanya saja, masih sering terjadi ketika orang-orang yang memiliki kemampuan tertentu pada akhirnya akan diserahi tugas tambahan terkait kemampuannya itu dan kemudian mengganggu kinerja pada tugas utamanya. Daripada kenapa-kenapa, pada akhirnya banyak yang menyembunyikan kemampuan menulis, infografis, pengelolaan media sosial, dan lain-lain. Kemampuan yang sebenarnya sangat dibutuhkan kalau mau menuju era Government 2.0.

Keberadaan kelompok-kelompok seperti Aparatur Muda bagi saya adalah suatu jalan tengah yang baik. Kumpulan jiwa-jiwa muda di birokrasi yang memiliki spirit dan kemauan untuk maju dalam sinergi adalah modal dasar yang baik. Bagaimanapun, sebenarnya orang muda mulai banyak terlibat dalam jantung kebijakan di Indonesia. Ada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang usianya setara pegawai berpangkat Penata atau Penata Tingkat I. Ada para staf khusus milenial yang secara usia juga tidak jauh dengan anak-anak muda penggerak birokrasi.

Artinya, tendensi dari jantung kebijakan di negeri ini untuk memberdayakan anak muda secara lebih optimal itu sudah terlihat. Masalahnya adalah kalau anak muda di birokrasi diberi tanggung jawab seperti staf khusus milenial atau bahkan Mendikbud, misalnya, apakah kemudian akan sanggup?

Pertanyaan ini tentu adalah refleksi bagi para aparatur muda. Sebab antara idealisme dan realitas terbentang jurang yang bernama perjuangan. Jadi, selamat berefleksi dan berjuang wahai Aparatur Muda!

Referensi:

Denhardt, R. B., & Denhardt, J. V. (2000). The New Public Service: Serving Rather Than Steering. Public administration review, 60(6), 549-559. doi:10.1111/0033-3352.00117

Mergel, I., Ganapati, S., & Whitford, A. B. (2020). Agile: A New Way of Governing. Public administration review, n/a(n/a). doi:10.1111/puar.13202

10+