Percayakah anda, bahwa di masa depan, kualitas aparatur kita meningkat sangat pesat? Ya, 10 tahun dari sekarang, aparatur di Indonesia sudah jauh semakin lebih baik dan bahkan menjadi sumber rujukan untuk berbagai dunia dalam hal pelayanannya. Barangkali anda tidak percaya, tapi penulis sangat yakin dan optimis, bahwa 10 tahun kedepan, aparatur kita telah berkualitas.

          Ada alasan mengapa penulis menyatakan demikian. Hal ini disebabkan Indonesia optimis bahwa pada 10 tahun yang akan datang masuk dalam 10 besar dunia secara ekonomi dan digital.

Lihat saja, Indonesia bakal menempati posisi keempat ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030 menurut proyeksi Standar Charted1. Menteri Perindustrian sebelumnya, Airlangga Hartarto, juga menyatakan bahwa Indonesia akan keluar sebagai salah satu bangsa juara pada tahun 2030 dengan industri 4.02.

Senada, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, pun juga memaparkan bahwa Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar ke-9 di dunia pada tahun 20303.

Tak tanggung-tanggung, Indonesia pun mendapatkan berkah berupa bonus demografi di tahun-tahun tersebut. Jumlah penduduk di usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa4.

Optimisme Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan dalam kancah dunia adalah gaung visi Indonesia Emas Tahun 2045. Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu negara dengan perekonomian terbesar dunia pada tahun 2045. Pemerintah memprediksi sejumlah potensi yang bisa membawa Indonesia ke posisi itu5.

Tapi tunggu sebentar. Tentu menuju kearah Indonesia Emas ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan perlu ada enam prasyarat yang menjadi pondasi bagi Indonesia agar mampu menjadi negara maju.

Prasyarat tersebut diantaranya infrastruktur yang layak, penguatan SDM, penyediaan teknologi, perbaikan birokrasi pemerintah, pengelolaan tata ruang wilayah, dan sumber daya ekonomi dan keuangan melalui APBN sehat6.

          Menurut penulis, kunci keberhasilan dalam mewujudkan kesemua itu terletak pada perbaikan birokrasi pemerintah. Mengapa? Karena birokrasi pemerintah dapat menentukan kebijakan yang tepat dan sesuai untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dan roda penggeraknya ada pada aparaturnya yang berkualitas.

          Penulis tidak ingin bercerita tentang kisah birokrasi saat ini. Karena memang saat ini kita semua sedang dan tengah menjalaninya. Penulis akan menceritakan utopia optimisme birokrasi pemerintah 10 tahun dari sekarang.

Penerapan rasionalisasi

Rasionalisasi ini menjadi syarat optimisme aparatur Indonesia menjadi berkualitas. Hal ini penting karena tuntutan perkembangan jaman maka rasionalisasi dilakukan.

Latar belakang adanya rasionalisasi adalah pada era ini teknologi sudah berkembang semakin canggih. Mesin dalam bentuk robot maupun AI (Artificial Intelligence) pun turut menjadi bagian dalam birokrasi pemerintah untuk mendukung pelayanan publik.

Pada era ini, akan menjadi pemandangan biasa aparatur manusia berkolaborasi dengan aparatur robot/AI di sektor-sektor pelayanan publik. Ini merupakan berkah adanya revolusi 5.0 sehingga membuat pelayanan semakin cepat dan efektif.

Kolaborasi dengan robot ini tentu berpengaruh terhadap jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) secara keseluruhan. Bisa dipastikan pada era ini, jumlah ASN mengalami penurunan setiap tahunnya, dan peminat ASN tidak terlalu banyak, karena beberapa bagian pekerja bisa dilaksanakan oleh robot.

Selain struktur birokrasi menjadi ramping bahkan beberapa birokrasi telah melebur menjadi satu, adanya jumlah ASN yang tidak terlalu banyak ini berdampak pada proses pemilihan aparatur terbaik dengan sistem seleksi yang semakin ketat dan sistem rasionalisasi yang dilaksanakan dalam rangka memiliki aparatur yang mampu bekerja sesuai dengan kompetensinya/keahliannya masing-masing.

Ucapkan selamat tinggal pada para aparatur era generasi X. mereka telah diganti dengan generasi milenial dan generasi Z, bahkan bersiap menyambut generasi Alpha.

Rasionalisasi yang sehat menyebabkan diberlakukannya sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment) secara terus menerus. Penghargaan dan sanksi diberikan tidak hanya kepada ASN semata, namun juga kepada birokrasi pemeritahnya.

Semakin sering kita membaca dan melihat penghargaan diberikan kepada aparatur yang menawarkan sistem tertentu dan terbukti dapat diterapkan dengan hasil output dan pelayanan yang semakin baik.

Menjadi aparatur yang berkualitas melalui penerapan rasionalisasi juga terlihat dari pengukuran kinerja aparatur secara perseorangan maupun kinerja pada tingkat birokrasi pemerintah yang disusun dan disebarluaskan secara luas oleh pihak diluar pemerintah.

Jika 10 tahun yang lalu, penilaian kinerja hanya dilakukan dalam internal birokrasi, maka pada era ini pengukuran dilakukan oleh suatu lembaga independen, dan melibatkan peran masyarakat dalam komponen penilaiannya.

Lebih jauh lagi, rasionalisasi memberikan ruang bagi aparatur yang tidak memiliki jabatan untuk memberikan kritik, saran, dan masukan bagi atasan/pejabat yang tidak sesuai dengan kompetensi maupun kualifikasi, serta tidak menunjang kinerja birokrasi. Rasionalisasi tidak hanya untuk bawahan, tapi juga untuk pejabat/atasan.

Fleksibilitas kerja

Hal berikutnya adalah fleksibilitas kerja. Pada era ini, istilah bekerja dari rumah (work from home) sudah berjalan dengan baik. komunikasi dengan sesame aparatur maupun dengan robot dapat terus dibangun.

Faktor penghambat seperti perbedaan jaringan komunikasi dan masalah keamanan data sudah terselesaikan dengan penguatan frekuansi dan jaringan yang dapat terakses di seluruh pelosok Indonesia.

Lantas masih perlukah monitoring ASN yang bekerja dari rumah? Penulis rasa tidak perlu. Masing-masing aparatur telah memiliki indikator capaian kinerjanya masing-masing, dan ada formula/komponen khusus untuk membuktikannya.

 

***

          Menciptakan aparatur yang berkualitas sehingga keluhan-keluhan atas pelayanan publik yang lambat, berbelit, tidak efektif, dan alur yang bisa saja rumit, bisa diminimalisir dengan baik. Sekarang eranya pelayanan hanya melalui sentuhan, pelayanan menggunakan data dan blue print.

          Sekarang juga eranya aparatur yang memiliki kemampuan dan keahlian dibidangnya masing-masing, mampu beradaptasi dan berinovasi dengan kemajuan teknologi, dan mampu mencapai target kinerjanya dengan fleksibilitas kerjanya.

Penulis sangat optimis bahwa aparatur akan semakin berkualitas sehingga mampu mendukung visi Indonesia Emas Tahun 2045. Tidak percaya? Mari kita buktikan nanti di tahun 2030.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/09/124556326/2030-indonesia-diprediksi-jadi-negara-ekonomi-terbesar-keempat-di-dunia.  Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.

2.https://www.beritasatu.com/ekonomi/540475-tahun-2030-indonesia-keluar-sebagai-juara-dalam-ekonomi. Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.

3.   https://www.galamedianews.com/?arsip=247878&judul=indonesia-diproyeksikan-jadi-negara-ekonomi-digital-terbesar-ke-9-tahun-2030. Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.

4.https://www.kominfo.go.id/content/detail/16370/dari-bonus-demografi-digital-talent-scholarship-hingga-palapa-ring/0/artikel. Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.

5. https://katadata.co.id/infografik/2019/09/25/prasyarat-indonesia-menjadi-negara-maju-2045. Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.

6.    http://indonesiabaik.id/infografis/melangkah-jadi-negara-maju-indonesia-2045. Tanggal akses 8 Juni 2020, pukul 13.00 WIB.