Siap”.

Sebuah kata yang acap kali terucap dari bibir para aparatur. Sebuah kata yang sangat familiar dan terkenal entah sedari kapan, masih misteri, penulis pun tidak tahu, dan tidak familiar sebelum penulis terdaftar mengabdi sebagai aparatur. Penulis mencoba menerka-nerka, kemungkinan kata ini diserap dari teman-teman di kalangan militer, karena sudah tentu kata siap sering digunakan oleh mereka.

Sebetulnya, semenjak kecil kita telah terbiasa dengan kata siap. Kata siap ini tidak pernah sendirian, karena dia memiliki teman dekat, yaitu hormat dan tegak. Iya, siap grak, hormat grak, dan tegak grak. Itulah aba-aba perintah yang sering dilontarkan pemimpin kepada peserta, bahkan pembina, ketika upacara berlangsung. Dimulai dari berseragam putih merah, kemudian putih biru, sampai kepada putih abu-abu, aba-abanya tetap sama. Siap grak. Menandakan posisi bersedia untuk mengikuti jalannya upacara dengan khidmat.

Secara harfiah, terdapat enam arti dari kata siap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Seperti yang telah dikupas di atas, salah satu arti dari kata ini adalah sudah bersedia. Bersedia untuk melakukan apa yang diperintahkan, dengan mengerahkan kemampuan yang dipunyainya. Itulah artinya kalau sekiranya perlu diterjemahkan secara lengkap. Lain lagi ketika kita berucap kata “siap” dalam Bahasa Batak. Ini bisa berarti “sudah selesai”. Semisal, ”Sudah siapnya mandimu?” Nah, ini artinya, sudah selesaikah mandimu?. Seperti itu. Mungkin pula ada definisi lain tentang siap ketika dibaca dalam bahasa daerah yang lain, hehe.

Masuk ke dalam tubuh aparatur, kata siap ini rasa-rasanya sudah mendarah daging dan menjadi ucapan wajib yang harus dibunyikan ketika menerima arahan dan perintah. Iseng-iseng, penulis mencoba menelisik, sebetulnya apa sih makna dari kata siap dalam pembicaraan setiap aparatur. Berikut ulasannya:

1.    Sependapat dengan arahan;

Ketika siap diucapkan sebagai jawaban atas setiap arahan, ini bisa dipersamakan dengan kata “sependapat”. Iya, yang menerima arahan menyatakan telah satu pendapat dengan yang memberi arahan. Tentunya, sependapat di sini tidak sekedar mengiyakan saja, tetapi mengerti betul tentang apa substansi yang diperintahkan dalam arahan tersebut, dan bagaimana cara mengerjakannya.

2.   Meminimalisir terjadinya perdebatan;

Dalam dunia aparatur, sering sekali terjadi perdebatan karena perbedaan pendapat. Ini wajar, karena setiap orang, aparatur sekalipun, berhak untuk mengutarakan pendapatnya. Dalam setiap rapat, saat perdebatan terjadi, semua peserta terlihat bertahan dengan argumentasi masing-masing, yang telah dirangkai sedemikian rupa untuk menguatkan pendapatnya. Dalam menampung semua masukan dari berbagai pendapat yang berbeda, dengan sudut pandang pemikiran yang berbeda pula dari setiap orang, diperlukan waktu dan cara pandang yang bijak untuk menilai setiap manfaat dari masukan, termasuk kelemahannya. Di sinilah serunya perdebatan.

Bahkan terkadang, kalau sampai tidak terkendali, bisa pula emosi yang tidak diperlukan bermain dalam perdebatan ini. Tumpah ruah malah, sehingga sampai dibutuhkan pihak penengah untuk meredamnya. Dan di ujungnya, ketika semua peserta telah berujar kata siap, ini berarti perdebatan telah diminimalisir untuk tidak menjadi berkepanjangan, dan semua kembali menjadi tenang, hehe.

3.   Bentuk penghormatan kepada orang lain;

Dalam pergaulan di kalangan aparatur, kepada orang yang lebih tua dan orang yang tidak kita kenal dekat, kata siap biasa digunakan dalam percakapan bersama mereka. Kepada orang yang lebih tua, ini adalah salah satu bentuk penghormatan secara formal atas jenjang usia yang jauh di atas kita, termasuk ada unsur segan di dalamnya. Dapat diibaratkan, hal ini seperti menghormati orang tua kita, hanya saja ini orang tua di dalam kantor.

Sementara dengan orang yang tidak kita kenal secara dekat, biasanya kita tidak suka berbicara terlalu banyak karena tidak mengenal baik sosok orang tersebut, bagaimana pola pikirnya, sifat, dan wataknya. Sehingga, untuk tetap menghormati dan menjaga perasaannya, lebih sering digunakan kata siap ketika berbicara dengannya, hehe.

4.   Bergerak cepat melaksanakan perintah.

Seketika mendapat arahan, langsung dikerjakan. Itulah juga makna dari kata siap, usai mendapatkan perintah. Sepertinya, semua sepakat bahwa tidak ada satupun atasan yang tidak suka dengan bawahan yang sigap dan cepat dalam menjalankan perintah. Semua suka. Bahkan, tidak perlu sampai kepada atasan, rekan kerja sepantaran pun sangat suka ketika cara kerja dalam timnya adalah cepat.

Baiklah, demikian sekilas arti dari kata siap menurut pandangan penulis, bagaimana menurut pendapatmu? Bisa ditulis di kolom komentar ya, dipersilakan. Adalah sungguh sangat baik bagi kita untuk berbagi pengalaman, sehingga menambah wawasan kita bersama akan misteri penggunaan kata siap dalam lingkungan aparatur.

Sementara itu, tulisan ini pun akhirnya sudah siap, hehe.

Jakarta,

23 Juni 2020.

 

Sang Babu Rakyat.

2+